
Setiap kali saya pulang ke Jakarta, saya selalu merasakan kesumpekan dan keruwetan yang terus bertambah. Saya bisa merasakan ini karena seperti penduduk Jakarta yang lain, saya adalah termasuk dari salah satu warga Jakarta yang tiap hari harus melakukan commute dari kawasan suburb di selatan Jakarta ke tempat saya beraktifitas dengan menghabiskan waktu sekitar 45 menit kalau kondisi jalanan tidak macet (silahkan bayangkan sendiri berapa lama yang harus tempuh jika kondisi jalanan sedang macet). Bagi warga yang tinggal di kawasan kota satelit Jakarta bahkan harus menghabiskan waktu yang lebih lama lagi untuk mencapai tempat kerja mereka.
Apa yang sebenarnya menjadi masalah? Memang sebagai sentra aktifitas bagi sebagian besar warga, kondisi Jakarta yang semakin tidak nyaman untuk dijadikan tempat bekerja dan tinggal ini tidak memiliki jalan keluar lain selain mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi yang makin lama makin memburuk ini. Dampak langsungnya adalah pengorbanan yang sangat besar dari kualitas hidup kita demi kelanjutan hidup. Ya coba bayangkan saja, kita harus menyiapkan ekstra waktu dan ekstra kekuatan mental hanya untuk bisa bekerja di Jakarta. Atau bisa dikatakan perjalanan pergi dan pulang serta beraktifitas adalah perjuangan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta di luar perjuangan untuk hidup itu sendiri (bekerja). Ini menjadikan hidup di Jakarta saya bisa bilang sama sekali tidak bisa dibilang nyaman.
Masalah transportasi publik di Jakarta adalah masalah yang tidak pernah selesai, dan seperti juga permasalahan-permasalahan lainnya, karena saking lama nya tidak dipecahkan maka warga Jakarta menjadi skeptik dan mencoba memecahkan permasalahannya masing-masing sendiri yang akhirnya menimbulkan masalah baru lagi. Untuk lebih jelasnya saya akan coba memaparkan dari sudut pandang seorang warga Jakarta:
- Jakarta memiliki sistem transportasi publik dalam kota seperti bis kota, kereta api, minibus (Metromini & Kopaja), angkot, dan taksi
- Jakarta tidak memiliki sistem pembatasan jumlah mobil pribadi seperti yang dilakukan oleh negara tetangga kita Singapura, sehingga perkembangan jumlah mobil pribadi tidak bisa di kontrol.
- Menaikkan besaran pajak terhadap kendaraan pribadi ternyata bukanlah jalan keluar yang baik untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi. Karena itu seperti menaikkan standar harga, begitu masyarakat bisa membeli mobil dengan harga katakanlah tingkat menengah, maka opsi membeli kendaraan pribadi jadi semakin luas karena kendaraan tingkat bawah pun jadi bisa terjangkau.
- Naiknya jumlah pemilik kendaraan pribadi tidak bisa diimbangi oleh pertumbuhan jalan, sehingga yang terjadi adalah munculnya kemacetan di mana-mana.
- Kemacetan di mana-mana ini merugikan seluruh warga Jakarta, dan warga menjadi skeptis karena selama bertahun-tahun tidak ada perbaikan (dari pemerintah) untuk kondisi ini. Oleh karena itu mereka mencoba memecahkan masalah ini dengan hanya melihat pada diri mereka masing-masing (no time to pay attention to others), yaitu dengan membeli kendaraan pribadi yang bisa at least memecahkan masalah waktu tempuh dan kenyamanan (dibadingkan dengan menggunakan kendaraan umum). Kendaraan pribadi ini adalah Motor.
- Pertumbuhan jumlah motor yang merupakan pemecahan jangka pendek bagi pemiliknya ternyata menciptakan masalah baru, karena motor maupun mobil tetap saja mengkonsumsi tiap jengkal jumlah jalan yang pertumbuhannya sangat timpang.
- Alhasil, kondisi bukannya menjadi semakin nyaman tapi ya semakin buruk.
- Tambahan lagi, warga kita sudah sejak lama tidak pernah dibiasakan patuh hukum, karena jujur saja pelaku hukumnya pun kebanyakan di jalan raya sering melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum yang ujung-ujungnya jadi muncul paradigma tidak ada yang tidak boleh di jalanan Jakarta asal kita bisa membayar.
Itulah yang bisa saya tangkap, silahkan kalau ingin menambahkan. Lalu apa kira-kira yang bisa sekiranya memperbaiki kondisi ini?
Kebetulan saya mendapat kesempatan untuk tinggal di dua kota yang memiliki sistem transportasi cukup baik, yaitu New York City dan Singapura. Eits jangan terburu-buru menyebutkan bahwa Jakarta tidak sebanding dengan dua kota ini? Kita akan tetap jalan di tempat jika tidak mau melihat dan membandingkan dengan tempat-tempat lainnya. Pengalaman tinggal di dua kota ini membuat saya mengerti bahwa wajar jika warga kota ini tidak perlu punya kendaraan pribadi sendiri. Transportasi publik yang mereka miliki sangatlah bisa diandalkan. Sehingga warga lebih memilih menggunakan transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi karena bahan bakar mahal dan tempat parkir gila2an mahalnya. Namun transportasi publiknya nyaman. Lalu apakah artinya di kedua kota tersebut tidak dikenal yang namanya macet/traffic jam? Jangan salah, tetap ada, tapi jauh lebih bisa di manage dan pengertian traffic jam mereka berbeda. Jika di Jakarta rumah-kantor = 1-2 jam karena traffic jam, kalau di Singapura/New York, naik kendaraan molor 20 menit = traffic jam.
Hal lainnya lagi adalah yang berkaitan dengan poin nomer 8, yaitu law enforcement. Di NYC/Singapura, practically tidak ada masalah serius, sedangkan di Jakarta, untuk mengatur agar dua jalur (busway & umum) bisa dipergunakan sebagaimana mestinya saja susahnya bukan main.
Sekali lagi, saya sangat yakin, jika kita memiliki transportasi publik yang bisa diandalkan maka hampir sebagian masalah warga Jakarta akan bisa terselesaikan.
Bagimana menurut Anda?
Tulisan ini bisa dibaca juga di sini


Dua-tiga tahun lagi ada moda baru buat warga DKI berupa kereta api bawah tanah (subway). Tahap 1 Lebak Bulus-Dukuh Atas jalur kereta ini berada di bawah tanah; Tahap 2 Dukuh Atas-Kota lintasan relnya berada di atas tanah. Saya tak bisa membayangkan seperti apa semerawutnya Jakarta saat itu. Soal kemacetan sebenarnya soal disiplin, tapi mau bilang apa bila pemerintah dan para pegawainya serta tokoh-tokoh masyarakat tak memberi contoh sebagai warga kota yang baik dan taat peraturan. Menurut saya adanya subway nanti tidak akan merubah keadaan lalin Jakarta yang macet, karena pertambahan kendaraan pribadi akan terus bertambah. Pembelian mobil dimana pajak sebagai PAD (penerimaan asli daerah) yg cukup besar jumlahnya akan dipertahankan oleh pemda. Pembatasan kendaraan satu faktor yg sering dibahas hanya sebagai wacana, sampai hari ini tak kunjung keluar formulanya. Subway pun akan sama nasibnya dengan Busway yang diawal-awal peluncurannya (gubernur Soetiyoso saat itu) menjamin moda Busway akan menolong warga dari kemacetan lalin DKI (plus dimajukannya jadwal masuk sekolah bagi anak-anak kita?) ternyata “prediksi” Soetiyoso meleset tak terbukti malah menambah jumlah kecelakaan lalin dan jatuhnya korban. Kesimpulannya adalah pembatasan kendaraan mutlak dilakukan Pemda DKI, tak ada cara lain sebab panjang jalan di DKI tak mungkin bertambah, sementara semua orang ingin hidupnya terlihat meningkat, dan ukurannya harus punya mobil pribadi. Kalo bisa beli mobil kenapa harus naik motor biarpun terjebak macet terasa lebih nimkat, toh telat masuk kantor tidak cuma seorang diri.
Tahun ini saya baru naik Metro-Mini dan angkot, padahal saya pernah tinggal di Jakarta 4 tahun dan sekarang saya pergi kesana sekali setahun.
Enak kalau naik bis Metro-Mini dan angkot, tahu kapan naik, tapi tidak tahu kapam sampai, apa lagi, berguna untuk cari teman.
Salam kenal.
Hmm..menurut saya,keruwetan akibat kemacetan dikarenakan selain tidak disiplin pengendara serta terus bertambahnya jumlah pengguna mobil pribadi tanpa antisipasi.
Pertumbuhan angka pengguna mobil pribadi tidak akan menambah luas tanah di bumi ini.Karena terlampau sempit disesaki.
Jika pemerintah mau mengendalikan,saran saya adalah cobalah menerapkan standar angkutan umum yg layak dan dapat diandalkan dr segi waktu dan tarifnya terjangkau.
Secara pribadi,saya menggunakan angkutan umum yg oalah udah kondisinya jelek bgt,mogok melulu,tapi tarif maunya tinggi,dan keselamatan penumpang tdk dipikirkan krn sibuk kejar setoran dgn ngebut seenaknya.
Yah saya harap pemilik armada angkutan umum or perusahaan otobus mengerti.