Categorized | Featured, Jakarta Kita

Trotoar untuk Siapa?

Trotoar untuk Siapa?

Jalan adalah sebuah prasarana penting dalam tata kota dimana banyak prasarana lain ikut bergantung pada keberadaan jalan tersebut yaitu salah satunya transportasi. Beragamnya pengguna jalan maka dirasakan penting untuk dibuat pembagian penggunaan jalan berdasarkan penggunanya, maka kita bisa menemukan apa yang kita sebut dengan trotoar yang saya yakin semua orang sudah tahu fungsinya untuk apa, yaitu untuk pejalan kaki yang melakukan perjalanan dengan alat transportasi alam yang built-in dengan tubuh kita, yaitu sepasang kaki.

Jika kita simak Wikipedia tentang trotoar maka akan kita dapati penjelasan sebagai berikut:

Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan  pejalan kaki yang bersangkutan.

Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.

Pertanyaan pada judul tulisan ini muncul karena definisi pada Wikipedia tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada trotoar-trotoar di Jakarta. Banyaknya pelencengan yang terjadi pada trotoar, antara lain:

  1. Jalur motor
  2. Tempat parkir
  3. Tempat melakukan usaha (warung dan kaki lima)
  4. Tempat menanam pohon
  5. Jadi satu dengan tempat beradanya tiang-tiang (tiang listrik, tiang telpon, tiang lampu jalan, dll)

Apakah memang di kota Jakarta semua orang diharapkan untuk menggunakan kendaraan sehingga fungsi trotoar untuk pejalan kaki dikorbankan? Tentu seharusnya tidak ya. Yang terjadi adalah law enforcement yang tidak berjalan sehingga masyarakat merasa boleh melakukan hal-hal yang dilarang.

Bagaimana menurut Anda?

Foto oleh: Margie Meiranie Sudiro

7 Responses to “Trotoar untuk Siapa?”

  1. anisinam says:

    yup! pejalan kaki emang anak tiri di kota ini. pernah nulis tentang ini juga di http://anisinam.multiply.com/journal/item/323/Tentang_pejalan_kaki_si_anak_tiri

  2. bangwin says:

    Iya kaka Ani…butuh ada yang mecutin alias menghukum, tapi pihak2 yang mesti menjaga tidak juga mau meng enforce hukum pada aturan2 yang sudah ditetapkan

  3. salman says:

    Hanya satu yang bisa mengatasi fungsi trotoar sesuai definisi di atas, adalah satu kata yang sering kita dengar digembor-gemborkan pemerintah yakni, Disiplin dan Taat peraturan! Tapi bagaimana memulainya kalo para pemimpin ternyata juga tak disiplin. Para pemimpin tak memberi contoh taat peraturan. Seperti kejadian baru2 ini mobil seorang menteri (Mensos) masuk jalur bus way. Jelas perbuatan pak Menteri beresiko menimbulkan kecelakaan. Tapi namanya pejabat.. ya dibiarin aja.. mobilnya lewat gak kena semprtit sama polisi. Katanya sudah minta ijin sama pusat manajemen lalu-lintas (TMC) Polda Metrojaya. Ini fakta kecil bila pemimpin tak punya disiplin. Peraturan bolah diabaikan. Coba bayangin kalo itu mobil warga biasa..? Jadi tak heran kalo nasib trotoar sama dengan bus way akhirnya, tak pernah bergeser pada fungsi semestinya. Entah sampai kapan, mungkin selama cari makan itu susah dan ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Menyebalkan juga..

  4. Sebagian besar trotoar sudah di sulap jadi “pasar”pedagang kaki lima,bagaimana kita bisa menikmati santainya jalan di trotoar.

  5. Bruce says:

    Iya kaka Ani…butuh ada yang mecutin alias menghukum, tapi pihak2 yang mesti menjaga tidak juga mau meng enforce hukum pada aturan2 yang sudah ditetapkan

  6. Gildo says:

    Hehehehehe, saya selalu kalau ke Jakarta, heran itu trotoar, penuh dengan orang dagang.
    Aku mengerti, orang musti cari kehidupan, tapi……..
    Disini, di Barcelona (Spain), saya paling senang keluar dan jalan-jalan di trotoar, bisa kemana-mana.
    Salam kenal.

  7. ulfa says:

    menurut saya…
    kita harus sadar pada diri kita sendiri. berawal dari kesadaran itulah masyarakat akan menjadi makmur. Jangan hanya Menteri-lah, Presiden- lah, Pemerintah -lah yang slalu disalahkan. Akan tetapi seharusnya kita bisa membantu pemerintah, khususnya negara Indonesia ini. Apa yang bisa kita lakukan, Lakukanlah! Jangan hanya bicara dimulut tpi g’ mlakukan kedisiplinan tsb!

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

Archives