<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Voice of Jakarta &#187; Jack McDuff</title>
	<atom:link href="http://voiceofjakarta.com/tag/jack-mcduff/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://voiceofjakarta.com</link>
	<description>Everything about The City</description>
	<lastBuildDate>Sun, 04 Mar 2012 03:49:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Howard Levy</title>
		<link>http://voiceofjakarta.com/2009/02/howard-levy/</link>
		<comments>http://voiceofjakarta.com/2009/02/howard-levy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 21:50:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Anthony Molinaro]]></category>
		<category><![CDATA[Bela Fleck and the Flecktones]]></category>
		<category><![CDATA[Bobby McFerrin]]></category>
		<category><![CDATA[Bonnie Koloc]]></category>
		<category><![CDATA[Branford Marsalis]]></category>
		<category><![CDATA[Chevere]]></category>
		<category><![CDATA[Cindy Lauper]]></category>
		<category><![CDATA[Claudio Roditi]]></category>
		<category><![CDATA[Dolly Parton]]></category>
		<category><![CDATA[Eugene Friesen]]></category>
		<category><![CDATA[Glen Velez]]></category>
		<category><![CDATA[Howard Levy]]></category>
		<category><![CDATA[Jack McDuff]]></category>
		<category><![CDATA[Jean-Luc Ponty]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Bruce]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Garcia dan Grateful Dead]]></category>
		<category><![CDATA[John Prine]]></category>
		<category><![CDATA[John Tesh]]></category>
		<category><![CDATA[Johnny Frigo]]></category>
		<category><![CDATA[Ken Nordine]]></category>
		<category><![CDATA[Kenny Loggins]]></category>
		<category><![CDATA[Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[Mark Murphy]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Riessler]]></category>
		<category><![CDATA[Nelson Rangell]]></category>
		<category><![CDATA[Oregon]]></category>
		<category><![CDATA[Paquito D’Rivera]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Simon]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Wertico]]></category>
		<category><![CDATA[Rabih Abou Khalil]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Goodman]]></category>
		<category><![CDATA[Styx]]></category>
		<category><![CDATA[Tito Puente]]></category>
		<category><![CDATA[Tom Paxton]]></category>
		<category><![CDATA[Toots Thielemans]]></category>
		<category><![CDATA[Trilok Gurtu]]></category>
		<category><![CDATA[Trio Globo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.voiceofjakarta.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Halo teman-teman, Untuk menyambut diputarnya edisi spesial Nuansa Jazz yang pertama di tahun ini, dengan bintang tamu Howard Levy, berikut kami tayangkan sebuah artikel* mengenai beliau. Edisi ini akan mengudara perdana 21 Maret, 2009 dan ditayangkan ulang di minggu sesudahnya.  Informasi lebih lanjut untuk hari dan jam mengudaranya Nuansa Jazz dapat ditemukan di halaman Jadwal Program. Salam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" src="http://farm4.static.flickr.com/3243/3151641717_68d8fefe03_o.jpg" alt="" width="70" height="70" /></p>
<p>Halo teman-teman,</p>
<p>Untuk menyambut diputarnya edisi spesial Nuansa Jazz yang pertama di tahun ini, dengan bintang tamu Howard Levy, berikut kami tayangkan sebuah artikel* mengenai beliau.</p>
<p>Edisi ini akan mengudara perdana 21 Maret, 2009 dan ditayangkan ulang di minggu sesudahnya.  Informasi lebih lanjut untuk hari dan jam mengudaranya Nuansa Jazz dapat ditemukan di halaman <a href="http://www.voiceofjakarta.com/program/">Jadwal Program</a>.</p>
<p>Salam hangat,</p>
<p>Alfred D. Ticoalu<br />
25 Pebruari, 2009<br />
Chicago, IL</p>
<p style="text-align: center;">==========================</p>
<p><img class="alignleft" src="http://farm4.static.flickr.com/3611/3310173108_8deb584d88_o.jpg" alt="" width="175" height="263" />Kala diucapkan, nama <strong>Howard Levy </strong>selalu mengundang setidaknya dua pertanyaan.  Pertanyaan pertama, yang paling banyak terdengar<em>, “Siapa sebenarnya Howard Levy?”</em> Pertanyaan kedua, yang juga tak kalah banyak terdengar,<em> “Bagaimana mungkin Howard Levy, sebagai seorang manusia, dapat bermusik seperti itu?” </em></p>
<p>Jika seseorang layak dikatakan jenius maka Howard Levy lebih dari layak dimasukkan ke dalam kategori tersebut.  Dia seorang musisi tanpa batasan.  Pinta saja berbagai jenis musik untuk dia mainkan &#8211; dari Rock, Jazz, Blues, Latin, Classic, Country, Folk, juga musik tradisional seperti Klezmer, Celtic, Arab, Yunani, bahkan sampai Jawa, Sunda dan Bali &#8211; semua dapat dia mainkan dengan sempurna.  Dan setiap saat dia selalu mencari jalan untuk mencari jenis-jenis musik baru untuk dia mainkan.<em> “Saya tidak mampu berhenti memikirkan musik,”</em> tuturnya.<em> “Apapun di dunia ini, dari suara tawa canda sampai suara mesin mobil yang menderu, dapat memberikan saya inspirasi dan keinginan untuk bermusik.” </em></p>
<p>Dia aktif pula sebagai musisi studio dan ini bisa dilihat dari jumlah berbagai iklan TV dan radio yang dia telah mainkan.  Sumbangan nyata ke dalam dunia musik juga bisa dilihat dari ratusan judul rekaman yang sudah dia buat.  Deretan nama musisi yang pernah bermain dengannya mendatangkan decak kagum: <strong>Bela Fleck and the Flecktones</strong>, yang mana dia dikenal sebagai salah satu pendirinya, <strong>Kenny Loggins</strong>, dengan <strong>Eugene Friesen </strong>dan<strong> Glen Velez </strong>dalam kelompok <strong>Trio Globo, Dolly Parton, Jerry Garcia dan Grateful Dead, Styx, Paul Wertico, Bobby McFerrin, Jack McDuff, Toots Thielemans, Claudio Roditi, Johnny Frigo, Paul Simon, Tito Puente, Nelson Rangell, John Prine, Paquito D’Rivera, Ken Nordine, Cindy Lauper, Rabih Abou Khalil, Michael Riessler, Jean-Luc Ponty, Oregon, Jerry Bruce, Trilok Gurtu, Mark Murphy, John Tesh, Anthony Molinaro, Branford Marsalis</strong>, dan ratusan nama lainnya yang layak disebut namun jika dilakukan hanya akan memenuhi halaman ini.  Berbagai penghargaan atas berbagai sumbangannya kedunia musik telah diterima dan salah satunya, Grammy Award, diraih pada tahun 1997.</p>
<p>Sebagai pemain piano, flute, ocarina, mandolin, saxophone, dan berbagai alat perkusi, dia selalu mendatangkan decak kagum.  Namun dari semua itu sumbangan terbesar justru terletak di alat musik utamanya yaitu harmonika diatonik yang lazim dipakai oleh para pemain Blues.  Sampai saat ini Howard Levy masih dinyatakan sebagai pemain harmonika diatonik paling <em>advance</em> yang pernah ada di dalam sejarah musik.  Sebagai pencetus ide <em>overblow </em>dan <em>overdraw</em>, juga ditambah dengan teknik <em>bending</em> yang sudah dikenal sebelumnya, dia memungkinkan dan menciptakan teknik bermain kromatik dengan harmonika diatonik 10 lubang.  Konsep bermain kromatik dengan harmonika diatonik mungkin terdengar asing bagi pembaca dan bahkan anda mungkin bertanya-tanya apa arti sebenarnya hal ini.  Cara menjelaskan yang termudah adalah dengan membayangkan keyboard piano di benak anda namun hilangkan semua kunci-kunci (tuts) hitam darinya.  Yang tertinggal tentu hanya kunci-kunci putih dan pada dasarnya itulah harmonika diatonik, harmonika yang diciptakan hanya untuk memainkan nada-nada natural<em> (natural notes) </em>tanpa hadirnya nada-nada kres dan mol <em>(sharps </em>dan<em> flats).</em> Howard Levy, dengan teknik <em>overblow</em> dan <em>overdraw</em> ciptaannya, dapat memainkan nada-nada kunci-kunci hitam, <em>sharps </em>dan <em>flats, </em>yang sebenarnya tidak ada di harmonika tersebut. Bukan hanya ide ini revolusioner namun juga secara drastis merubah ilmu bermain harmonika diatonik.  Seorang diri, Howard Levy membuktikan bahwa hal ini dapat dilakukan dan terciptalah suara baru dalam dunia harmonika.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lahir dan dibesarkan di New York City, Howard memulai dunia musiknya diusia dini.<em> “Saya mulai belajar bermain piano diusia 8 tahun, musik klasik, walau entah mengapa saya selalu berusaha untuk berimprovisasi,”</em> ucap Howard kepada penulis.<em> “Tak lama kemudian selera musik saya mulai berkembang, tak semata mendengarkan dan memainkan musik klasik saja.  Sewaktu di bangku SMU saya bergabung dengan sebuah kelompok musik dan pemain drum kelompok tersebut sedang belajar memainkan harmonika blues dari mendengarkan berbagai rekaman yang ada.  Dari dia lah saya mulai tertarik dengan blues, bahkan saya jatuh cinta dengan blues.”</em> Howard meneruskan,<em> “Tak lama kemudian saya mulai mempelajari blues dengan piano dan setelah dapat memainkannya dengan baik saya mulai berpikir mungkin ada baiknya juga belajar memainkan harmonika.  Waktu itu saya hanya memikirkan betapa enaknya memainkan harmonika, tak perlu berat-berat membawanya,” </em>tukas Howard seraya tertawa.<em> “Saya berkenalan dengan Jazz tak lama sesudah itu dan dunia saya berubah secara drastis.  Betapa tertantangnya saya untuk dapat memainkan musik itu!” </em></p>
<p><em>“Sejak dulu saya melihat diri saya sebagai pemain piano.  Secara langsung maupun tak langsung, saya berpikir sebagai pemain piano kala memainkan alat musik lain,”</em> ucap Howard.<em> “Ini juga bisa dilihat dari cara saya melihat harmonika.  Banyak yang bertanya mengapa saya bersusah payah memilih memainkan harmonika diatonik ketimbang kromatik, yang jelas-jelas lebih mudah dimainkan karena semua nada-nada yang diperlukan ada.”</em> Dilanjutkan oleh Howard, <em>“Bagi saya, dan saya rasa juga banyak pemain harmonika diatonik lainnya, harmonika diatonik lebih ekspresif ketimbang kromatik.  Justru karena ketidakberadaan semua nada-nada yang diperlukan, bermain lebih ekspresif merupakan satu-satunya jalan keluar.  Sekali lagi, saya memandang harmonika itu sebagai piano.  Sebenarnya semua nada-nada itu ada di harmonika tersebut hanya saja anda harus memiliki keinginan untuk menemukannya!” </em></p>
<p>Setelah meninggalkan bangku SMU, Howard melanjutkan pendidikannya di <em>Manhattan School of Music</em>, berkonsentrasi di dalam dunia musik klasik dengan alat musik piano.  Pendidikannya dilanjutkan dengan belajar memainkan <em>pipe organ</em> di bawah bimbingan <strong>Carl Lambert </strong>dan di tahun 1969 dia mengambil keputusan untuk pindah ke <em>Northwestern University</em> di Evanston, IL, sekitar setengah jam dari Chicago.  Di sana Howard mulai aktif bermain Jazz dengan menggabungkan dirinya ke dalam sebuah kelompok musik yang khusus memainkan musik itu.  Dua tahun di Northwestern memberikan berbagai kesempatan kepada Howard untuk berkenalan dengan musisi-musisi studio di Chicago.  <strong>Steve Goodman, John Prine, Bonnie Koloc, Tom Paxton </strong>dan<strong> Johnny Frigo, </strong>hanyalah sebagian kecil dari musisi-musisi tersebut.  Beberapa tahun bermain musik iklan di berbagai studio memberikan kesempatan bagi Howard untuk mengasah dan membentuk dirinya.  Dia juga mulai terjun masuk kedalam dunia musik teater dan berbagai sumbangannya terbukti dari penghargaan <em>Joseph Jefferson Award</em> untuk kategori musik sandiwara terbaik.</p>
<p>Di pertengahan tahun 80 Howard memulai karir baru dengan memulai perjalanan keliling Amerika dan Eropa dengan <strong>Paquito D’Rivera</strong> yang dijumpai pertama kali kala Howard sedang bermain piano untuk <strong>Tito Puente</strong>.  Tak lama sesudah itu Howard menetaskan album perdananya, <em>Harmonica Jazz</em>, yang juga diproduserinya sendiri.  Album ini secara tuntas memperkenalkan Howard Levy sebagai pemain harmonika yang mampu memainkan hal-hal yang sebelumnya dianggap tak mungkin dapat dimainkan dengan alat musik tersebut.  Memainkan<em> Donna Lee</em> karya <strong>Charlie Parker</strong>, <em>Epistrophy </em>karya <strong>Thelonius Monk </strong>dan <em>Resolution</em>, bagian kedua dari <em>A Love Supreme</em>, karya <strong>John Coltrane,</strong> adalah contoh nyata dari kemampuan Howard dalam berimprovisasi secara handal bahkan jenius.</p>
<p>Di tahun 1989, kala Howard mengajar harmonika di <strong>The Augusta Heritage Arts Workshop </strong>di Elkins, WV, dia berkenalan untuk pertama kalinya dengan <strong>Bela Fleck.  Lorraine Duisit</strong>, rekan musisi Howard di kelompok <strong>Trapezoid</strong>, memperkenalkan mereka.  Dalam sebuah bincang-bincang santai dengan penulis Howard mengingat kembali peristiwa tersebut.  <em>“Ada-ada saja! Baru kali itu saya diseret oleh seorang wanita untuk bertemu seseorang.  Bela sedang duduk di lobi hotel tempat semua musisi menginap dan ketika kami sudah saling berhadap-hadapan Lorraine hanya berkata: Howard, Bela … MAIN!” </em>Howard tertawa tergelak-gelak mengingat peristiwa tersebut.  <em>“Akhirnya kami bermain, jamming, sampai jam 7 pagi di lobi itu.”</em> Pengalaman itu beberkas di hati Bela karena tak lama kemudian dia mengajak Howard untuk bermain dengan Victor dan Roy Wooten dan lahirlah <strong>Bela Fleck and the Flecktones. </strong>Dari tahun 1989 sampai 1992 Howard bermain di kelompok tersebut dan menghasilkan empat album, <em>Bela Fleck &amp; The Flecktones, Flight of the Cosmic Hippo, Live Art dan UFO Tofu. </em>Masa-masa ini penting karena Howard untuk pertama kalinya menarik perhatian massa umum secara luas dan tentu saja dunia industri musik.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://farm4.static.flickr.com/3581/3330172173_8cc7b1f5eb_o.jpg" alt="" width="450" height="300" /></p>
<p>Howard berpisah dengan The Fleckstones dengan alasan yang amat khas darinya, <em>“Sudah waktunya untuk saya berpisah dengan mereka untuk mencari bahasa musik yang baru. Tahun-tahun itu penuh dengan berbagai kesenangan. Namun sekali lagi, sudah saatnya bagi saya untuk melangkah lebih maju.” </em>Dua album Howard selanjutnya, <em>Carnival of Souls </em>dan <em>Trio Globo</em>, dibuat dengan kelompok musik <strong>Trio Globo</strong> yang sampai hari ini masih dianggotainya.  Anggota lain kelompok musik tersebut adalah <strong>Eugene Friesen </strong>pada cello dan <strong>Glen Velez </strong>pada perkusi.  Kehadiran alat-alat musik tersebut memberikan suara, warna dan harmoni tersendiri yang amat unik.  Komposisi-komposisi yang dimainkan di album itu semuanya ditulis oleh mereka sendiri dan masing-masing dibentuk sedemikian rupa untuk dapat menunjukkan kemampuan bermain dan olah pikir mereka.</p>
<p>Selain Trio Globo Howard juga memiliki beberapa projek musik lain yang semua masih aktif digelutinya.  <strong>The Molinaro/Levy Project</strong>, kelompok duet piano-harmonika yang dimotori oleh <strong>Anthony Molinaro </strong>dan Howard telah menghasilkan sebuah album, <em>The Molinaro /Levy Project-Live, </em>yang direkam live di <em>Green Mill</em>, sebuah klub Jazz ternama di Chicago dan beberapa aula kesenian di propinsi New York.  Album mereka penuh berisi dengan musik yang menantang; dari komposisi <em>19/8</em> yang tentu saja diberi judul dari ketukan komposisi tersebut, <em>Mood Indigo</em> &#8211; karya <strong>Barney Bigard </strong>dan <strong>Duke Ellington</strong> &#8211; di mana Howard memainkan harmonika dengan menggunakan sebuah cangkir, sebuah cara yang patennya dimiliki Howard, untuk mendapatkan pola suara <em>plunger mute</em> yang biasanya hanya kita dengar dari pemain trumpet dan trombone, sampai <em>Amazing Grace, tour-de-force </em>Howard yang sampai saat ini tak tertandingi.  Projek yang lain adalah <strong>Accoustic Express</strong>, sebuah kelompok musik akustik yang berakar dari kelompok musik <strong>Django Reinhardt and Stephane Grappelli</strong>, dimotori oleh <strong>Howard, Chris Siebold dan Pat Fleming </strong>pada gitar, dan <strong>Larry Kohut </strong>pada bass. Mereka telah merekam sebuah album yang rencananya akan dilepas tak lama lagi.  <strong>Chévere</strong>, projek ketiga Howard, merupakan kelompok musik yang diakui sebagai kelompok musik Latin/Jazz/Funk/Blues tingkat kelas atas di Chicago dalam kualitas musiknya.  Di sini Howard juga berperan sebagai pemimpin dari kelompok tersebut, komposer dan penata musik.</p>
<p>Indonesia, secara khususnya Jawa dan Bali, tidak asing di mata Howard yang mana amat menggemari musik gamelan.  <em>“Sudah lebih dari 30 tahun saya mendengarkan dan mempelajari gamelan,”</em> ucap Howard.<em> “Bonang, saron, gong, rebab, suling, kendang, kecapi bahkan sampai kulintang, amat menarik perhatian saya.  Saya memiliki satu set kulintang di kamar belakang rumah saya yang pernah saya mainkan dengan Bela Fleck and the Fleckstones!”</em> Ditambahkan olehnya, <em>“Saya mempelajari musik gamelan dari puluhan album-album yang saya miliki.  Saya belum pernah ke Indonesia dan semoga suatu hari nanti saya dapat melakukannya.”</em></p>
<p>Ketika kelompok musik Krakatau datang ke Amerika sebagai duta budaya Indonesia, Howard berpartisipasi dalam rekaman mereka di Chicago. Hasil rekaman, yang saat tulisan ini dibuat masih dalam proses mixing di Jakarta, amat ditunggu oleh Howard untuk didengarnya kembali secara keseluruhan**. <em> “Rekaman itu merupakan sebuah pengalaman yang amat berharga dan tak akan dapat saya lupakan.  Krakatau merupakan kelompok musik yang amat bagus, paduan musik timur dan barat yang sesungguhnya.  Setiap musisi di kelompok itu tahu persis posisi mereka dan apa yang akan mereka lakukan. Sebagai sebuah kelompok mereka adalah kesatuan yang unik.” </em></p>
<p>Tiada batasan yang bisa diberikan ke Howard dalam hal bermusik.  Satu-satunya keinginan dia adalah bermusik dan menumpahkan berbagai ide yang ada di jiwa dan raganya melalui berbagai alat musik yang dapat dimainkannya, terutama harmonika diatonik.  Terobosannya yang tak tertandingi adalah keberhasilan dalam memainkan harmonika diatonik secara melodis ke dalam tingkat yang sebelumnya tak dapat dan tak pernah terbayangkan.  Dia percaya bahwa dia dapat melakukannya dan melalui kerja keras mencapainya.  Tepuk tangan dan pujian kerap diberikan kepada setiap musisi sehabis mereka bermain.  Dan di dalam lingkaran dunia musik Howard itu adalah hal yang sewajarnya terjadi dan dia lebih dari berhak untuk mendapatkannya.  Setiap tepukan, setiap pujian.</p>
<p>Alfred D. Ticoalu<br />
Chicago, IL<br />
31 Agustus, 2004</p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>Diskografi terpilih Howard Levy:</strong></p>
<p>1986 &#8211; Harmonica Jazz (Tall Thin)<br />
1986 &#8211; Paquito D’Rivera: Explosion (CBS)<br />
1988 – Ken Nordine: Grandson Of Word Jazz (Snail)<br />
1990 &#8211; Bela Fleck &amp; The Flecktones (Warner Bros.)<br />
1992 &#8211; Trio Globo: Carnival of Souls (Silver Wave)<br />
1993 &#8211; Kenny Loggins: Outside: From the Redwoods (Sony)<br />
1993 &#8211; Paul Wertico: Yin and the Yout (Intuition Records)<br />
1994 &#8211; Trio Globo (Silver Wave)<br />
1996 &#8211; The Old Country (M.A.)<br />
1997 &#8211; Rabih Abou Khalil: Odd Times (Enja)<br />
1999 &#8211; The Stranger’s Hand (Tone Center)<br />
2003 &#8211; Anthony Molinaro/Howard Levy-Live (nineteeneight records)<br />
2005 &#8211; Krakatau: 2 Worlds (MusiKita)<br />
2005 &#8211; Howard Levy and Fox Fehling: Cappuccino (Balkan Samba Records)<br />
2005 &#8211; Chevere: Secret Dream (Balkan Samba Records)</p>
<p>* Artikel ini sebelumnya pernah diterbitkan oleh www.wartajazz.com.<br />
** sudah dilepas dengan judul <em>2 Worlds</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://voiceofjakarta.com/2009/02/howard-levy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

