Tag Archive | "Jakarta"

3 Shift Jam Kerja : Upaya Mengurangi Kemacetan Jakarta

Macet Jakarta

Ada banyak upaya untuk  mengurangi kemacetan Jakarta. Yang nampaknya tiap tahun makin padat dan makin sulit bergerak. Upaya yang dilakukan bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah bahkan masyarakat pun sudah mencoba banyak cara untuk menguranginya. Pemerintah DKI sedang menjalani solusi dengan transportasi publik dengan busway. Program banyak koridor pun sedang disiapkan. Kemudian dengan rencana pembuatan monorail, MRT, dan KRL, ini pun merupakan langkah infratsruktur yang menjanjikan sebagai solusi.

Sementara dari masyarakat, banyak yang pula yang melakukan upaya mengurangi kemacetan misalnya dengan menggunakan sepeda ke tempat kerja. Atau ikut “nebeng” dengan mobil teman yang searah. Usaha-usaha ini merupakan upaya warga dan pemerintah Jakarta untuk melepaskan diri dari kemelut kemacetan Jakarta

Konsep Shifter

Salah satu upaya yang mungkin layak dicoba adalah dengan melakukan pembagian shift (giliran) jam kerja. Kita tahu bahwa masalah utama dari kemacetan adalah perpindahan penduduk yang serentak dalam waktu yang bersamaan. Yakni perpindahan penduduk sebagai pegawai kantoran dari lokasi perumahan ke lokasi pusat bisnis. Minimnya fasilitas transportasi publik menyebabkan perpindahan manusia ini dengan kendaraan pribadi.

Selain melakukan penambahan jumlah transportasi publik, solusi lain adalah dengan membagi giliran jam kerja perusahaan. Katakanlah pembagiannya itu berdasarkan jenis usaha atau pekerjaannya.

• Shift 1 : masuk jam 07.00- 15.00 : untuk perusahaan bank dan kantor-kantor pemerintahan

• Shift 2 : masuk jam 10.00 – 18.00 : untuk perusahaan umum

• Shift 3 : masuk jam 13.00 – 21.00 : untuk perusahaan penunjang perusahaan lain (maintenance, infrastruktur, distribusi dst)

Apabila diperhatikan, sebetulnya tidak terlalu banyak berubah dari jam sibuk yang ada sekarang yaitu sejak pukul 7 pagi hingga pukul 21 malam. Bedanya sekarang pendistribusian kepadatan transportasi jadi terpecah tiga.

Lalu bagaimana dengan perusahaan yang membutuhkan jasa / keterkaitan perusahaan lain? Tentu saja semua itu bisa diatur dan bukan menjadi sebuah aturan jam kerja kaku yang terikat. Untuk perusahaan-perusahaan yang membutuhkan kesiapan (stand by) lebih dari sekedar jam kerja, tentu tidak akan mengikat dari aturan 3 shift ini. Lagipula sejak dulu pun demikian, seperti halnya rumah sakit, station TV, bandara, pemadam kebaran, PLN, dan seterusnya. Jelas perusahaan-perusahaan jenis pelayanan publik seperti itu tidak musti melakukan aturan 3 shift, karena di dalam perusahaan mereka pun sudah melakukan shift kerja

Dengan konsep “Shifter” ini, maka akan banyak keuntungan-keuntungan yang bisa dihasilkan selain mengurangi kemacetan jalan, antara lain:

1. Bagi suami isteri yang keduanya kerja kantoran, mungkin bisa saling bergantian menemani si kecil di rumah

2. Pendistribusian beban listrik DKI pada jam-jam tertentu. Sehingga mengurangi kelebihan beban dan “byar-pet”

3. Pendistribusian kepadatan jam operasi angkutan umum

4. Tidak perlu mengorbankan jam sekolah anak-anak lagi

5. Tidak perlu menunggu biaya besar PemdaDKI untuk membuat infrastruktur yang tak kunjung datang

6. Dan mungkin masih banyak lagi.

Yang menarik, untuk melakukan konsep ini, tentu tidak perlu melakukan proses panjang dan penuh birokrasi. Cukup melalui Depnaker dan PemdaDKI sebagai pihak yang memberikan nota kepada perusahaan-perusahaan. Sebagai upaya uji coba bukan tidak mungkin diterapkan untuk wilayah-wilayah tertentu dulu, misalnya diterapkan di semua perusahaan yang berada di Jalan Sudirman dan Thamrin. Kemudian menyusul fase kedua perkantoran di wilayah Kuningan dan Gatot Subroto, dan seterusnya berdasarkan tingkat kepadatan wilayah perkantoran.

Dengan demikian, maka permasalahan kepadatan jalan raya pada jam-jam sibuk pagi dan sore nampaknya tinggal kenangan :D

Semoga jadi pencerahan dan pertimbangan…

Penulis: Anto Motulz
Twitter: @motulz
Blog: http://motulz.blogdetik.com/

Posted in Featured, Surviving JakartaComments (0)

Gerakan #savejkt Lahir di Twitter

Pada tanggal 22 Oktober 2010, hari Jumat, gerakan #savejkt yang dimulai kurang dari dua bulan yang lalu telah resmi diluncurkan secara online di Twitter pada pukul 19:00 WIB.

Gerakan #savejkt adalah gerakan yang didasari oleh keprihatinan warga Twitter terhadap kondisi Jakarta. Sebagai sebuah kota besar berpenduduk mendekati angka 10 juta jiwa, permasalahan Jakarta sangat kompleks. Fatalnya, kompleksitas masalah yang ada di Ibu Kota tidak direspon secara efektif dan profesional oleh pihak pengelola Jakarta. Di mana-mana kita bisa lihat ketidakmampuan pemerintah DKI saat ini dalam mencari solusi yang sistematis dan terintegrasi. Atas keprihatinan itulah para twitizen (warga kota pengguna account twitter) mencoba melakukan perubahan di Jakarta melalui peran aktif dalam suatu gerakan yang kami sebut sebagai Gerakan #savejkt. Mengapa? Karena Jakarta harus diselamatkan dari bencana yang diakibatkan keteledoran pengelola serta ketidakpedulian warganya. Kira-kira itulah yang menyebabkan lahirnya gerakan #savejkt ini.

Sejam setelah peluncuran gerakan #savejkt ini acara dilanjutkan dengan diskusi tentang gerakan ini di Obrolan Langsat (Obsat) yang kebetulan juga dilangsungkan pada malam yang sama.

Pada tanggal yang sama sebelum peluncuran, kami mendapat kesempatan untuk mewawancara tiga orang pemrakarsa Gerakan #savejkt ini. Mereka adalah Yanuar Nugroho (@yanuarnugroho, Peneliti dan Pengajar di Manchester Business School, Inggris), Christi Pramudianti Wihardjono (@cheestea, Desainer Interior) dan Rachmat Anggara (@anggadoet, Peneliti dan Pengajar di Prasetyamulya Business School).

Berikut ini video hasil wawancara kami dengan mereka bertiga:

Foto: Amelia Wirogo

Posted in Jakarta KitaComments (1)

Perparkiran VS Kemacetan

Perparkiran VS Kemacetan

Kemacetan yang super parah di kota Jakarta ini membuat pemerintah daerah DKI Jakarta mencari cara untuk mengatasinya. Salah satunya yang sedang jadi pembicaraan pada saat ini adalah akan diberlakukannya kenaikan tarif parkir sebesar 5 kali lipat pada daerah-daerah tertentu yang dianggap pusat aktivitas masyarakat, seperti misalnya di daerah perkantoran dan sekitarnya.

Pertanyaan yang timbul di kepala saya adalah dengan kondisi transportasi pengganti (umum) yang ada sekarang, apakah menaikkan tarif parkir tersebut bisa menjadi solusi yang baik bagi masalah kemacetan kota Jakarta ini? Apakah masyarakat akan mau menggunakan transportasi umum demi untuk tidak harus membayar tarif parkir tersebut?

Saya ingat ketika dulu pemerintah mencoba menekan laju masuknya jumlah mobil import ke Indonesia dengan menggunakan cara memasukkan kendaraan mobil kedalam kategori barang mewah sehingga jumlah pajaknya masuknya menjadi hampir 100%. Lalu apa yang terjadi? mobil import tetap saja bisa masuk karena permintaan dari dalam negeri tetap tinggi, sehingga bisa disebut usaha pemerintah tersebut tidak terlalu berhasil. Nah, apakah kejadian serupa juga akan terjadi dengan kebijakan menaikkan tarif parkir ini?

Saya pribadi menilai masalah utama yang ada dalam kasus macet pada jalan-jalan di Jakarta ini lebih pada masalah kelayakan transportasi umum yang sejak jaman dahulu tidak pernah terpecahkan. Sehingga masyarakat memilih menggunakan kendaraan sendiri, sehingga mulailah mereka menyicil mobil ataupun motor agar bisa mendapatkan transportasi yang lebih layak. Bagaimana dengan Busway? Sebuah usaha yang bagus sebenarnya tapi kita juga punya masalah dalam hal memelihara produk bersama, sehingga seperti yang kita lihat, prasarana Busway sedikit demi sedikit mulai rusak, dan proses perbaikkan tidak kunjung bisa mengejar proses kerusakan itu sendiri.

Sedikitnya dari kacamata saya ada 3 poin penyebab kemacetan di Jakarta, yaitu:

  • Tidak adanya transportasi umum yang memadai sehingga masyarakat berbondong-bondong membeli kendaraan sendiri.
  • Tidak adanya pembatasan usia kendaraan yang bisa digunakan di dalam kota.
  • Tarif parkir yang dibedakan tarifnya berdasarkan kepadatan dan tingkat kesibukan pada daerah-daerah tertentu

Justru menurut pandangan saya dua poin pertama di ataslah yang sangat efektif untuk dilakukan jika ingin kemacetan di Jakarta berkurang, setelah itu baru kita mencoba poin terakhir yang berkaitan dengan perparkiran.

Bagaimana menurut Anda?

Foto: basibanget

Posted in Featured, Jakarta KitaComments (0)

Transformasi ala Albert Yonathan (Liminal Being)

Di tahun 2010 sampai saat ini Albert Yonathan tercatat sudah 2 kali mengadakan pameran tunggalnya, pertama di Sigiarts pada bulan February yang lalu, dan pada bulan Mei kali ini di The Japan Foundation. Sepertinya gairah dan semangat berkarya yang ia dapatkan saat menjalani Proses Residensi dari  Jenesys The Japan Foundation selama kurang lebih 90 hari di Jepang masih sangat kuat melekat dalam dirinya.

Liminal Being
Pada pameran Liminal Being kali ini kita masih bisa menemui karya yang sama seperti yang pernah ia pamerkan di pameran tunggalnya berjudul Cosmic Mantra di Sigiarts yang sebelumnya sudah pernah saya bahas di blog ini. Apa sebenarnya arti dari judul pameran ini ? di dalam katalog NUANSA yang dikeluarkan oleh The Japan Foundation ‘Liminal’ adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi atau keadaan transisi atau di dalam sebuah proses transformasi. Istilah ini sering digunakan dalam kajian antropologi atau psikologi.

Dari proses yang saya cari, Liminal berarti ‘In Between, Transtitional’, sedangkan di sumber lain yang saya temukan  Liminal Being diartikan sebagai makhluk legendaris yang tubuh Fisiknya terbagi dua sehingga memungkinkan timbulnya 2 sifat yang bertolak belakang.

Berdasarkan pengertian diatas sepertinya kita sudah bisa meraba apa maksud dan korelasi dari ‘Liminal Being’ tersebut dengan karya Albert Yonathan yang dipamerkan di The Japan Foundation ini. Bila kita perhatikan bentuk-bentuk yang Albert cipakan bagaikan bentuk suatu makhluk hidup yang sedang melalui proses transformasi, antara manusia dan makhluk jenis lainnya, bila kita lihat dari banyaknya bentuk simbolik sayap yang ada, burung atau makhluk dengan sayap lainnya sepertinya juga banyak mempengaruhi Albert dalam berkarya.

Albert & program Residensi Jenesys
Albert Yonathan adalah seorang seniman yang berlatar belakang akademik di ITB, ia mempunyai minat yang tinggi di bidang seni keramik dan sangat mengagumi karya-karya seni keramik yang berasal dari Jepang, negara yang ternyata akan membawanya kesana selama 90 hari dalam proses program Residensi Jenesys The Japan Foundation Indonesia.

Bagi seniman manapun, saya rasa Jepang memang menjadi suatu tujuan khusus, Jepang adalah negara yang sangat menghargai berbagai macam karya seni, mereka juga sering mengaplikasikan karya seni ke dalam kehidupan serta kebutuhan hidup sehari-hari, seperti Bento atau kotak bekal makan yang tampilan makanannya sering sekali terkandung unsur estetika. Bukti lainnya adalah nilai total karya seni yang telah di eksport oleh negara berpopulasi 127 juta penduduk ini senilai 124.895.700 US Dollar (Data PBB 2007), bandingan dengan Indonesia yang berpopulasi 240juta tapi hanya dapat mengeksport 9.900.385 US Dollar (Data PBB 2008), dari nilai tersebut kita sudah dapat menilai Jepang dengan alam dan penduduknya disana seperti sudah mendarah daging dengan karya Seni.

Di Jepang, Albert berkesempatan bertemu dengan banyak seniman dari negara lain yang juga datang melalui program residensi Jenesys di negara mereka masing-masing, di akhir programnya setiap seniman diharuskan mengadakan sebuah pameran tunggal yang pada umumnya seperti merefleksikan tentang hal apa saja yang telah mereka dapat selama program residensi. Albert mengatakan ia sangat terkagum-kagum dengan atmosfir berkesenian disana, mulai dari apresiasi masyarakat yang cukup tinggi, serta fasilitas yang mendukung seniman dalam berkarya maupun mengadakan pameran, cerita selengkapnya tentang pengalaman Albert Yonathan selama ia melakukan program residensi dapat dilihat disini.

The Exhibition
Meski karya yang dipamerkan di Pameran Liminal Being ini tidak sebanyak saat di Cosmic Mantra, pengaturan serta tata letak pada pameran ini menurut saya briliant! dengan menggunakan salah satu ruang di The Japan Foundation, pameran Liminal Being ini menempatkan karyanya memusat seperti sedang memandang panggung pertunjukan, tidak ada ruang yang sia-sia sehingga pengunjung dapat dengan leluasa menikmati pameran ini, satu-satunya yang kurang manarik menurut saya adalah tidak adanya katalog, dan hanya disediakan Press release yang berbentuk poster yang dapat dilipat, yah..memang sih tempat pameran ini bukan Gallery Seni, jadi saya maklum saja cuma dapet seadanya, tapi untuk karya Albert Yonathan ini, sayang rasanya hanya dicetak di poster lembaran HVS.

Exhibition Name : Liminal Being
Place : The Japan Foundation
Curator :
Time : 5 May – 19 May 2010
Artist : Albert Yonathan

Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)

Posted in Seni & BudayaComments (0)

Eksplorasi Fairy Tale Dalam Vector (Happily (N)ever After)

Kalau ada pameran yang paling saya tunggu-tunggu di bulan April yang lalu, Happily (N)ever After – Amalia Kartika Sari oleh Amalia Kartika Sari lah pamerannya. Amalia Kartika Sari atau lebih dikenal dengan nickname Loveshugah adalah seorang Vector Artist, saya sengaja mengambil istilah Vector Artist karena memang semua karya luar biasa miliknya dibuat dengan Vector, coba teman-teman mampir ke deviantart miliknya.

Gaya ilustrasi Vector yang lucu, menarik dan penuh warna mamaksa kita untuk menyukai ilustrasi tersebu, lalu apa yang terjadi bila semua ilustrasi tersebut di masukan ke dalam sebuah Galeri Seni? hasilnya sangat luar biasa, Amalia Kartika Sari berhasil membuat suatu kejutan luar biasa dari tiap karya yang ia buat. Setiap lukisan berukuran besar tersebut disertai pigura yang dibuat satu tema dengan lukisannya, sehingga kita masih merasa bahwa pigura tersebut adalah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari lukisannya. Dari semua karyanya, ”Loro Jonggrang’ bisa disebut sebagai fenomena dalam pameran ini, lukisan yang disertai oleh instalasi Stainless Steel emas ditempatkan tepat di posisi pintu masuk, sehingga dari awal kita sudah diberi kejutan akan ukuran serta detail dari karya tersebut.

Tema yang diangkat oleh Amalia Kartika Sari dalam pameran ini sebagian besar merupkan cerita-cerita Fairy Tale dari Barat, sebut saja judul-judul seperti Alice In Hurryland, Happily (N)ever After – Amalia Kartika Sari, Lie, pinokio, lie, Little Red Hiding what, adanya perubahan nama tersebut sepertinya merupakan keisengiannya dalam berkarya, begitu juga dalam pembuatan ilustrasinya, Amalia Kartika Sari hampir selalu menggunakan figur dirinya sebagai karakter, dan di setiap ada figur dirinya disana selalu tampak karakter laki-laki yang ada bersamanya.

Rasanya saya bisa merasakan, pameran Happily (N)ever After ini akan menjadi tonggak awal kemajuan para Vector Artist Indonesia dalam melebarkan sayapnya ke dalam ranah Galeri Seni, bila benar maka bersiaplah menyambut awal yang baru dalam dunia seni lukis kontemporer Indonesia, Kita lihat saja nanti :)

Exhibition Name : Happily (N)ever After
Place : Kemang Icon Art Space
Curator : Asmudjo Jono Irianto
Time : 15 April – 6 May 2010
Artist : Amalia Kartika Sari

Blogpost ini disindikasi dari Out of The Box Indonesia (termasuk foto-fotonya)

Posted in Seni & BudayaComments (0)

Trotoar untuk Siapa?

Trotoar untuk Siapa?

Jalan adalah sebuah prasarana penting dalam tata kota dimana banyak prasarana lain ikut bergantung pada keberadaan jalan tersebut yaitu salah satunya transportasi. Beragamnya pengguna jalan maka dirasakan penting untuk dibuat pembagian penggunaan jalan berdasarkan penggunanya, maka kita bisa menemukan apa yang kita sebut dengan trotoar yang saya yakin semua orang sudah tahu fungsinya untuk apa, yaitu untuk pejalan kaki yang melakukan perjalanan dengan alat transportasi alam yang built-in dengan tubuh kita, yaitu sepasang kaki.

Jika kita simak Wikipedia tentang trotoar maka akan kita dapati penjelasan sebagai berikut:

Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan  pejalan kaki yang bersangkutan.

Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.

Pertanyaan pada judul tulisan ini muncul karena definisi pada Wikipedia tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada trotoar-trotoar di Jakarta. Banyaknya pelencengan yang terjadi pada trotoar, antara lain:

  1. Jalur motor
  2. Tempat parkir
  3. Tempat melakukan usaha (warung dan kaki lima)
  4. Tempat menanam pohon
  5. Jadi satu dengan tempat beradanya tiang-tiang (tiang listrik, tiang telpon, tiang lampu jalan, dll)

Apakah memang di kota Jakarta semua orang diharapkan untuk menggunakan kendaraan sehingga fungsi trotoar untuk pejalan kaki dikorbankan? Tentu seharusnya tidak ya. Yang terjadi adalah law enforcement yang tidak berjalan sehingga masyarakat merasa boleh melakukan hal-hal yang dilarang.

Bagaimana menurut Anda?

Foto oleh: Margie Meiranie Sudiro

Posted in Featured, Jakarta KitaComments (7)

Transportasi Publik Yang Bisa Diandalkan

Setiap kali saya pulang ke Jakarta, saya selalu merasakan kesumpekan dan keruwetan yang terus bertambah. Saya bisa merasakan ini karena seperti penduduk Jakarta yang lain, saya adalah termasuk dari salah satu warga Jakarta yang tiap hari harus melakukan commute dari kawasan suburb di selatan Jakarta ke tempat saya beraktifitas dengan menghabiskan waktu sekitar 45 menit kalau kondisi jalanan tidak macet (silahkan bayangkan sendiri berapa lama yang harus tempuh jika kondisi jalanan sedang macet). Bagi warga yang tinggal di kawasan kota satelit Jakarta bahkan harus menghabiskan waktu yang lebih lama lagi untuk mencapai tempat kerja mereka.

Apa yang sebenarnya menjadi masalah? Memang sebagai sentra aktifitas bagi sebagian besar warga, kondisi Jakarta yang semakin tidak nyaman untuk dijadikan tempat bekerja dan tinggal ini tidak memiliki jalan keluar lain selain mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi yang makin lama makin memburuk ini. Dampak langsungnya adalah pengorbanan yang sangat besar dari kualitas hidup kita demi kelanjutan hidup. Ya coba bayangkan saja, kita harus menyiapkan ekstra waktu dan ekstra kekuatan mental hanya untuk bisa bekerja di Jakarta. Atau bisa dikatakan perjalanan pergi dan pulang serta beraktifitas adalah perjuangan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta di luar perjuangan untuk hidup itu sendiri (bekerja). Ini menjadikan hidup di Jakarta saya bisa bilang sama sekali tidak bisa dibilang nyaman.

Masalah transportasi publik di Jakarta adalah masalah yang tidak pernah selesai, dan seperti juga permasalahan-permasalahan lainnya, karena saking lama nya tidak dipecahkan maka warga Jakarta menjadi skeptik dan mencoba memecahkan permasalahannya masing-masing sendiri yang akhirnya menimbulkan masalah baru lagi. Untuk lebih jelasnya saya akan coba memaparkan dari sudut pandang seorang warga Jakarta:

  1. Jakarta memiliki sistem transportasi publik dalam kota seperti bis kota, kereta api, minibus (Metromini & Kopaja), angkot, dan taksi
  2. Jakarta tidak memiliki sistem pembatasan jumlah mobil pribadi seperti yang dilakukan oleh negara tetangga kita Singapura, sehingga perkembangan jumlah mobil pribadi tidak bisa di kontrol.
  3. Menaikkan besaran pajak terhadap kendaraan pribadi ternyata bukanlah jalan keluar yang baik untuk membatasi jumlah kendaraan pribadi.  Karena itu seperti menaikkan standar harga, begitu masyarakat bisa membeli mobil dengan harga katakanlah tingkat menengah, maka opsi membeli kendaraan pribadi jadi semakin luas karena kendaraan tingkat bawah pun jadi bisa terjangkau.
  4. Naiknya jumlah pemilik kendaraan pribadi tidak bisa diimbangi oleh pertumbuhan jalan, sehingga yang terjadi adalah munculnya kemacetan di mana-mana.
  5. Kemacetan di mana-mana ini merugikan seluruh warga Jakarta, dan warga menjadi skeptis karena selama bertahun-tahun tidak ada perbaikan (dari pemerintah) untuk kondisi ini. Oleh karena itu mereka mencoba memecahkan masalah ini dengan hanya melihat pada diri mereka masing-masing (no time to pay attention to others), yaitu dengan membeli kendaraan pribadi yang bisa at least memecahkan masalah waktu tempuh dan kenyamanan (dibadingkan dengan menggunakan kendaraan umum). Kendaraan pribadi ini adalah Motor.
  6. Pertumbuhan jumlah motor yang merupakan pemecahan jangka pendek bagi pemiliknya ternyata menciptakan masalah baru, karena motor maupun mobil tetap saja mengkonsumsi tiap jengkal jumlah jalan yang pertumbuhannya sangat timpang.
  7. Alhasil, kondisi bukannya menjadi semakin nyaman tapi ya semakin buruk.
  8. Tambahan lagi, warga kita sudah sejak lama tidak pernah dibiasakan patuh hukum, karena jujur saja pelaku hukumnya pun kebanyakan di jalan raya sering melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum yang ujung-ujungnya jadi muncul paradigma tidak ada yang tidak boleh di jalanan Jakarta asal kita bisa membayar.

Itulah yang bisa saya tangkap, silahkan kalau ingin menambahkan. Lalu apa kira-kira yang bisa sekiranya memperbaiki kondisi ini?
Kebetulan saya mendapat kesempatan untuk tinggal di dua kota yang memiliki sistem transportasi cukup baik, yaitu New York City dan Singapura. Eits jangan terburu-buru menyebutkan bahwa Jakarta tidak sebanding dengan dua kota ini? Kita akan tetap jalan di tempat jika tidak mau melihat dan membandingkan dengan tempat-tempat lainnya. Pengalaman tinggal di dua kota ini membuat saya mengerti bahwa wajar jika warga kota ini tidak perlu punya kendaraan pribadi sendiri. Transportasi publik yang mereka miliki sangatlah bisa diandalkan. Sehingga warga lebih memilih menggunakan transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi karena bahan bakar mahal dan tempat parkir gila2an mahalnya. Namun transportasi publiknya nyaman. Lalu apakah artinya di kedua kota tersebut tidak dikenal yang namanya macet/traffic jam? Jangan salah, tetap ada, tapi jauh lebih bisa di manage dan pengertian traffic jam mereka berbeda. Jika di Jakarta rumah-kantor = 1-2 jam karena traffic jam, kalau di Singapura/New York, naik kendaraan molor 20 menit = traffic jam.

Hal lainnya lagi adalah yang berkaitan dengan poin nomer 8, yaitu law enforcement. Di NYC/Singapura, practically tidak ada masalah serius, sedangkan di Jakarta, untuk mengatur agar dua jalur (busway & umum) bisa dipergunakan sebagaimana mestinya saja susahnya bukan main.

Sekali lagi, saya sangat yakin, jika kita memiliki transportasi publik yang bisa diandalkan maka hampir sebagian masalah warga Jakarta akan bisa terselesaikan.

Bagimana menurut Anda?

Tulisan ini bisa dibaca juga di sini

Posted in Jakarta KitaComments (3)


Archives